Pages

Banner 468 x 60px

 

Selasa, 13 Maret 2018

Mengapa Naik Gunung Butuh Persiapan Yang Memadai ?

0 komentar
Mendaki gunung telah menjadi kegiatan yang populer di antara anak-anak dan remaja. Namun karena medan yang ditempuh tidaklah mudah, maka masalah kesehatan dan kondisi fisik harus diperhatikan dengan saksama.
Salah satu hal yang membuat olahraga mendaki gunung kian digemari adalah pengalaman seru yang didapatkan. Pemandangan indah selama perjalanan dan saat tiba di puncak merupakan garansi kepuasan yang akan membuat segala perjuangan saat mendaki menjadi terasa sepadan.
Image result for Mendaki gunung
Pastikan Memperhatikan Faktor Keamanan
Agar mendaki gunung bisa dilakukan dengan baik, seorang pendaki harus membawa peralatan yang tepat. Selain untuk mempermudah , peralatan yang tepat juga berguna untuk menjaga keamanan. Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan antara lain:
  • Pakaian juga ikut menentukan
Pakaian yang dikenakan merupakan salah satu faktor kunci bagi keamanan dan kenyamanan dalam melakukan pendakian. Dengan pakaian yang tepat, gerakan dan manuver saat mendaki akan lebih mudah dilakukan. Karena medan yang ditempuh nantinya melibatkan ketinggian, usahakan pakaian yang digunakan mampu melindungi diri dari keadaan cuaca yang ada di sana. Kondisi cuaca yang mudah berubah juga harus diantisipasi.
  • Alas kaki dan tongkat yang tepat
Memakai sepatu yang tepat bisa menjadi kunci untuk menaklukkan medan pendakian. Sepatu yang pas di kaki akan memberikan kenyamanan pada pergelangan kaki, stabilitas, dan pijakan. Jika pendakian dilakukan di daerah yang berbatu, gunakan satu atau dua tongkat untuk membantu menjaga keseimbangan di bagian yang tidak rata dan untuk membantu mengurangi efek benturan pada lutut, pinggul, pergelangan kaki, dan pinggang belakang.
  • Bawa makanan dan air secukupnya
Karena puncak gunung cenderung jauh dari peradaban, maka pastikan untuk membawa makanan dan minuman secukupnya. Usahakan ransel yang digunakan tepat dan cocok untuk membawa perlengkapan tersebut.
Masalah Kesehatan yang Mungkin Muncul
Salah satu masalah kesehatan yang berpotensi dialami oleh para pendaki adalah altitude sickness atau penyakit akibat ketinggian. Penyakit ini biasa mendera ketika seseorang tidak mendapatkan cukup oksigen di ketinggian. Gejala yang muncul dari gangguan ini adalah sakit kepala, hilang nafsu makan, dan susah tidur.
Gejala lain yang mungkin muncul antara lain lemah, lelah, sakit perut, muntah, dan pusing. Munculnya penyakit ini biasa diakibatkan oleh terlalu cepatnya perpindahan dari dataran rendah menuju dataran dengan ketinggian 2.400 meter atau lebih.
Jika kondisi ini berkembang menjadi lebih parah, maka penyakit ketinggian kemudian akan berkembang menjadi dua macam, penyakit ketinggian edema paru atau penyakit ketinggian edema serebral. Yang pertama diakibatkan oleh terlalu banyaknya cairan di paru-paru, sedangkan jenis kedua akibat cairan terlalu banyak menumpuk di otak.
Gejala-gejala yang kemungkinan muncul jika penyakit ketinggian berkembang ke arah yang parah, antara lain:
  • Mengalami sesak napas.
  • Kulit dan kuku berwarna biru yang merupakan tanda-tanda kekurangan oksigen.
  • Sering mengalami batuk sebagai tanda paru-paru terdapat cairan berlebih.
  • Keluar dahak. Dahak mungkin berbusa dan berwarna merah muda yang menandakan adanya darah yang berasal dari jaringan paru-paru yang rusak.
  • Jantung berdebar kencang.
  • Tidak mampu duduk atau berjalan dengan benar.
  • Sering berperilaku tidak masuk akal, seperti tidak mau mengakui adanya gejala.
Cara Mencegah dan Menangani Penyakit Ketinggian
Untuk mencegah penyakit ketinggian yang mungkin terjadi saat mendaki gunung, para pendaki sebaiknya melakukan tindakan pencegahan. Tindakan yang paling efektif adalah dengan cara naik secara perlahan-lahan saat hendak mencapai puncak atau ketinggian tertentu. Selain itu, pendaki juga sebaiknya membatasi aktivitas selama awal-awal pendakian untuk meminimalkan risiko munculnya penyakit ini.
Jika terkena penyakit ketinggian akut saat mendaki gunung, usahakan untuk tetap tenang dan tidak panik. Kondisi ini bukanlah kondisi serius dan bisa pulih sendiri dengan cukup beristirahat. Jika perlu, konsumsilah obat analgesik untuk meminimalkan rasa sakit. Penyakit ketinggian akut juga bisa dikurangi gejalanya dengan cara mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Jika kondisi sudah kian parah dan cara meminimalkan gejala masih belum berhasil, sebaiknya pendaki turun ke tempat yang lebih rendah. Memberikan obat diuretik juga dianjurkan untuk mengurangi penumpukan cairan di dalam tubuh. Tindakan lain yang bisa membantu adalah dengan memberikan oksigen dari tabung oksigen portabel.
Memburuknya kondisi kesehatan bisa terjadi saat sedang mendaki gunung, membuat para pendaki sudah selayaknya mempersiapkan peralatan secukupnya untuk mengantisipasi hal-hal semacam ini. Persiapan yang tidak kalah pentingnya yang harus dilakukan sebelum melakukan pendakian adalah persiapan kondisi fisik dan mental. Tanpa kesiapan fisik, mental, dan peralatan yang baik, maka kegiatan yang seharusnya menyenangkan ini bisa berubah menjadi bencana.
Jangan Lupa Share Ya Gan website ini semoga bermanfaat :D
Read more...

Beginilah Cara Mengatasi Pendaki Yang Mengalami Hiportemia

0 komentar
Hipotermia termasuk kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan medis darurat. Keadaan ini terjadi saat temperatur tubuh menurun drastis di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh, yaitu di bawah 35°C.
Related image
Saat temperatur tubuh berada jauh di bawah titik normal, sistem persarafan dan fungsi organ lain dalam tubuh akan mulai terganggu. Apabila tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan kegagalan sistem pernafasan dan sistem sirkulasi (jantung), dan akhirnya menyebabkan kematian.
Penyebab utama hipotermia adalah pajanan udara dingin. Sejumlah situasi yang berpotensi menyebabkan kondisi ini di antaranya adalah:
  • Tidak mengenakan pakaian yang tepat saat mendaki gunung.
  • Berada terlalu lama di tempat dingin.
  • Jatuh ke kolam.
  • Mengenakan pakaian yang basah untuk waktu cukup lama.
  • Suhu pendingin ruangan yang terlalu rendah (khususnya bagi manula dan bayi).

Jenis-jenis Hipotermia

Berdasarkan tingkat kecepatan hilangnya panas pada tubuh, hipotermia dapat dibedakan menjadi:
  • Hipotermia akut atau imersi. Kondisi ini terjadi apabila seseorang kehilangan panas tubuh secara mendadak dan sangat cepat, contohnya saat seseorang jatuh ke kolam yang dingin.
  • Hipotermia akibat kelelahan. Pada kondisi yang terlalu lemah, tubuh tidak akan mampu menghasilkan panas, sehingga orang tersebut akan jatuh pada kondisi hipotermia.
  • Hipotermia kronis. Jenis ini terjadi bila panas tubuh menghilang secara perlahan. Kondisi ini umum terjadi pada lansia yang tinggal di ruangan dengan kehangatan yang kurang, atau pada tunawisma yang tidur di luar ruangan.

Faktor Risiko Hipotermia

Hipotermia dapat terjadi pada siapa saja, namun ada sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:
  • Usia – bayi dan manula. Kemampuan untuk mengendalikan temperatur tubuh yang belum berkembang dengan sempurna pada bayi dan yang menurun pada manula. Anak-anak juga terkadang mengabaikan udara dingin karena terlalu asyik bermain.
  • Minuman keras dan obat-obatan terlarang. Alkohol dan obat-obatan terlarang dapat melebarkan pembuluh darah sehingga mempercepat dan meningkatkan pelepasan panas tubuh dari permukaan kulit. Kondisi mabuk atau teler dapat membuat seseorang tidak menyadari situasi dan cuaca dingin di sekitarnya.
  • Penyakit yang memengaruhi memori, misalnya penyakit Alzheimer. Pengidap penyakit ini biasanya tidak sadar bahwa mereka sedang kedinginan atau tidak paham apa yang harus dilakukan.
  • Pengaruh penyakit tertentu. Ada beberapa penyakit yang dapat memengaruhi mekanisme pengendali suhu tubuh, misalnya anoreksia nervosa, stroke, dan hipotiroidisme.
  • Obat-obatan tertentu, misalnya antidepresan, sedatif, serta analgesik opiat. Obat-obatan ini dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk mengendalikan temperatur.
  • Orang yang menghabiskan waktu lama di tempat yang dingin, misalnya pendaki gunung atau tunawisma.

Gejala-gejala Hipotermia

Gejala hipotermia sangat beragam dan terkadang sulit dikenali. Gejala yang muncul tergantung pada seberapa rendah suhu tubuh pengidapnya.
Bayi yang mengalami hipotermia bisa terlihat sehat, tapi kulitnya akan terasa dingin dan terlihat kemerahan. Bayi juga cenderung sangat diam, terlihat lemas, dan tidak mau menyusu atau makan.
Gejala-gejala hipotermia umumnya berkembang secara perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala yang meliputi menggigil yang disertai rasa lelah, lemas, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat.
Jika suhu tubuh terus menurun hingga di bawah 32°C, tubuh pengidap hipotermia biasanya tidak bisa memicu respons menggigil lagi. Ini mengindikasikan tingkat keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah hingga parah.
Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah (suhu tubuh 28-32°C) akan mengalami gejala-gejala berupa:
  • Mengantuk atau lemas.
  • Bicara tidak jelas atau bergumam.
  • Linglung dan bingung.
  • Kehilangan akal sehat, misalnya membuka pakaian meski sedang kedinginan.
  • Sulit bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.
  • Napas yang pelan dan pendek.
  • Tingkat kesadaran yang terus menurun.
Apabila tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan berpotensi memicu hiportemia yang parah dengan suhu tubuh 28°C ke bawah. Kondisi ini ditandai dengan gejala-gejala berikut:
  • Pingsan.
  • Denyut nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada denyut nadi.
  • Pupil mata yang melebar.
  • Napas yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.
Jika anak atau ada anggota keluarga Anda yang mengalami gejala-gejala tersebut, bawalah secepatnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat.

Metode Pengobatan Hipotermia

Langkah utama dalam menangani hipotermia adalah dengan mencegah proses pelepasan panas tubuh dan menghangatkan tubuh pengidap secara perlahan-lahan.
Sebelum pengidap hipotermia menerima penanganan dari petugas medis profesional, ada sejumlah metode pertolongan darurat yang dapat Anda lakukan untuk membantu. Metode-metode tersebut meliputi:
  • Memantau pernapasan pengidap. Segera berikan napas buatan jika pengidap berhenti bernapas.
  • Perlakukan pengidap dengan hati-hati. Gerakan yang kasar atau berlebihan dapat memicu serangan jantung. Menggosok tangan atau kaki pengidap juga sebaiknya dihindari.
  • Pindahkan pengidap ke dalam ruangan atau tempat yang hangat jika memungkinkan. Tetapi jangan langsung memandikan pengidap dengan air hangat.
  • Lepaskan pakaian pengidap jika basah dan ganti dengan yang kering.
  • Tutupi tubuh pengidap (terutama bagian perut dan kepala) dengan selimut atau pakaian agar hangat.
  • Apabila Anda berada di luar ruangan atau di alam terbuka, lapisi tanah dengan selimut sebelum membaringkan pengidap.
  • Berbagi panas tubuh dengan pengidap, misalnya dengan memeluknya secara hati-hati. Kontak langsung dari kulit ke kulit akan lebih efektif.
  • Berikan minuman hangat jika pengidap masih sadar dan bisa menelan. Tetapi jangan memberi minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
  • Gunakan handuk kering yang dihangatkan atau botol berisi air hangat untuk mengompres pengidap. Kompres ini sebaiknya diletakkan di leher, dada, atau selangkangan. Jangan meletakkannya di bagian kaki atau tangan karena dapat mendorong darah yang dingin untuk mengalir ke jantung, paru-paru, dan otak.
Setelah sampai di rumah sakit, pengidap hipotermia akan menerima serangkaian langkah penanganan medis. Pemilihan jenis penanganan akan tergantung pada tingkat keparahan hipotermia yang diderita pengidap. Beberapa jenis perawatan intensif yang biasanya dilakukan meliputi:
  • Mengeluarkan dan menghangatkan darah pasien, lalu kembali mengalirkannya ke dalam tubuh pasien. Proses ini dilakukan dengan mesin pintas jantung dan paru (CPB) atau mesin hemodialisis.
  • Menghangatkan saluran pernapasan dengan memberikan oksigen yang sudah dilembapkan dan dihangatkan melalui masker dan selang.
  • Memberikan infus berisi larutan salin yang sudah dihangatkan.
  • Mengalirkan larutan yang hangat untuk melewati dan menghangatkan beberapa organ tubuh, misalnya sekitar paru-paru atau rongga perut.
Hipotermia yang tidak diobati dapat menyebabkan beberapa komplikasi serius, seperti radang beku atau frosbite serta gangren (jaringan yang membusuk akibat terhambatnya aliran darah), atau bahkan kematian.

Langkah Pencegahan Hipotermia

Hipotermia bisa dicegah. Langkah-langkah sederhana yang dapat Anda lakukan untuk menghindari hipotermia adalah:
  • Menjaga agar tubuh tetap kering. Segera ganti pakaian Anda yang basah karena akan menyerap panas tubuh Anda.
  • Kenakan pakaian yang sesuai dengan cuaca dan kegiatan, terutama bagi Anda yang gemar mendaki gunung atau berkemah di tempat yang dingin. Gunakanlah pakaian dari bahan yang dapat menjaga kehangatan tubuh sekaligus menyerap keringat, misalnya wol. Hindari pakaian berbahan katun. Gunakan jaket yang tahan angin dan air.
  • Jangan lupa untuk menggunakan topi, syal, sarung tangan, kaus kaki, serta sepatu bot.
  • Lakukan gerakan sederhana untuk menghangatkan tubuh, tapi jangan sampai berkeringat berlebihan. Jika terkena angin, baju yang basah karena keringat dapat menurunkan panas tubuh.
  • Sediakan minuman dan makanan hangat, tetapi hindari minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
Bayi dan anak-anak lebih rentan terkena serangan hipotermia dibandingkan orang dewasa. Karena itu, Anda perlu melakukan langkah-langkah pencegahan agar mereka terhindar dari hipotermia. Di antaranya adalah:
  • Berikan pakaian atau jaket tambahan agar lapisan perlindungan mereka lebih tebal.
  • Jangan biarkan bayi Anda tidur di ruangan dengan suhu terlalu dingin.
  • Jangan biarkan anak Anda bermain di luar saat hujan atau cuaca dingin. Segera bawa anak Anda masuk ketika mulai menggigil.
Menghindari dan membentengi diri dari udara dingin akan membantu kita untuk mencegah serangan hipotermia yang berpotensi fatal.
Terimakasih semoga bermanfaat dan membantu .
Tolong share artikel dan website ini ya gan dan minta pencerahannya :D
Read more...